Tuesday, 18 December 2012

No Hope = No Fear

Harapan adalah kejahatan yang paling kejam, karena telah memperpanjang siksa pada manusia.
--Friedrich Nietzsche

Beberapa kawan sepermainan saya mengatakan bahwa harapanlah yang masih terus memperpanjang alasan bagi hidupnya, tanpa mengenali lebih jauh lagi bahwa harapan jugalah yang terus menyiksa hidup(nya). Hal ini tentu saja dapat dimaklumi mengingat sistem yang eksis saat ini jarang, jika disebut tak pernah, untuk membongkar hakikat-hakikat yang kasat mata. Orang sama yang mengatakan hal tersebut kemudian bertanya, jika tak lagi ada harapan, bagaimana orang-orang akan melanjutkan hidupnya yang sudah terlalu penuh akan hal-hal yang kejam?

Pertanyaan ini sering sekali terdengar, dalam berbagai varian dan bentuknya. Untuk itu mari kita lihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Sistem yang eksis saat ini telah membuat manusia terasing tidak hanya terhadap apa-apa yang dihasilkannya, secara lebih luas lagi keterasingan telah merasuk hampir dalam setiap hal dan menjadi sesuatu yang lumrah dalam masyarakat modern. Hanya saja, keterasingan ini memiliki berbagai bentuk dan varian-varian yang terkadang begitu halus terselubung, sehingga sebagian besar orang beranggapan bahwa keterasingan adalah sesuatu yang tak pernah eksis. Televisi, mall, budaya konsumerisme, dunia simulasi seperti Disneyland atau Dunia Fantasi, dan lain-lainnya, merupakan output-output kecil yang sengaja dibuat oleh dunia modern untuk menyamarkan efek keterasingan dan mengekalkannya. Tapi output-output ini pun sebenarnya meninggalkan jejak yang jelas akan eksisnya keterasingan itu sendiri, walaupun jejak yang paling nyata terlihat adalah orang-orang merasa dirinya baik-baik saja. Seakan sedang memupuk dendam, mereka hanya tinggal menunggu hidupnya meledak: menjadi bebas seutuhnya atau tinggal dalam keterasingan yang membuat hidupnya kosong, sebagai rutinitas menuju kematian.

Orang-orang merasa bahwa harapan adalah misteri yang mutlak diperlukan untuk membuat hidup terus berjalan dan melupakan bahwa hidup itu sendiri adalah misteri yang sampai saat ini belum dimaksimalkan pemecahannya. Orang-orang menjadi kurang tertarik akan relasi sosial yang bebas tanpa dominasi dan hirarki—malah cenderung mengeksiskannya. Orang-orang berpikir bahwa ketika relasi manusia telah bebas dari hegemoni, dominasi, dan hirarki, maka hidup tak lagi terlihat menarik dan akan berjalan datar-datar saja. Mereka lupa bahwa selama ini gesekan antara manusia dan alam pun belum terselesaikan. Orang-orang menjadi lupa bahwa banyak hal dalam alam dan diri manusia itu sendiri belum banyak yang diketahui dan dieksplorasi. Orang-orang merasa lebih membutuhkan harapan, karena harapan adalah masa depan, dan masa depan harus ada sebagai alasan bagi masa kini untuk melanjutkan kehidupannya. Memangnya ada apa dengan masa depan? Sebegitu pentingnyakah masa depan hingga orang-orang melupakan begitu saja masa kini? Kenapa memangnya jika tak ada masa depan? Bukankah hidup kita saat ini akan benar-benar terasa lebih berarti ketika kita tak berpikir tentang masa depan?  When there's no future, how can there be sin, we're the flowers in the dust bin, we're the poison in the human machine. We're the future. Your future. God save the Queen”, kata Jhony Rotten.

Setelah harapan telah mati, kemudian apa lagi, ketika mimpi dan khayalan pun telah sedemikian diintervensi oleh sistem? Hidup dan kehidupan itu sendiri. Hidup dan kehidupan yang bebas untuk sama sekali tidak memiliki obsesi atau tendensi apa pun selain petualangan dan kebahagiaan itu sendiri. Di saat kesuksesan—dalam artian material kasat mata—telah sedemikian berkuasa atas impian orang-orang dan malah membuat orang-orang tersebut tenggelam dalam keterasingannya, petualangan dan kebahagiaan adalah salah satu obat yang akan membuat orang-orang merasa hidup kembali dan menegasikan sistem yang eksis dengan komodifikasinya.

Hidup akan dirayakan, di mana pesta-pesta penuh kegembiraan akan dilaksanakan dalam banyak waktu. Orang-orang tak perlu lagi bekerja untuk sekedar bertahan hidup—kerja akan menjadi sebuah kegiatan bebas, sesuai kebutuhan. Tanpa harapan, hidup akan terasa lebih nyaman dan bebas, tinggal bagaimana anda melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa anda bebas, bahkan juga apabila hal tersebut akan menghancurkan anda. Kierkegaard memisalkan kisah Adam yang masih berada di firdaus, ia bahagia dan hidupnya bermakna hingga Tuhan memperlihatkan Pohon Pengetahuan dan berkata, "Jangan makan buah pohon ini." Setelah itu, Adam tak lagi bebas. Ada sebuah aturan yang sebenarnya dapat ia tabrak, dan ia harus melanggarnya untuk membuktikan kebebasannya, bahkan apabila kebebasan tersebut adalah kehancuran dirinya. Kierkegaard mengatakan bahwa di mana saat kita dilarang melakukan sesuatu, maka kita akan melakukannya. Tak terhindarkan. Dan setiap anda melihat sebuah kemungkinan, maka akan selalu ada dorongan untuk mencobanya, untuk membuatnya menjadi benar-benar terjadi.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More