Harapan adalah kejahatan yang
paling kejam, karena telah memperpanjang siksa pada manusia.
--Friedrich Nietzsche
Beberapa kawan sepermainan saya mengatakan bahwa
harapanlah yang masih terus memperpanjang alasan bagi hidupnya, tanpa mengenali
lebih jauh lagi bahwa harapan jugalah yang terus menyiksa hidup(nya). Hal ini
tentu saja dapat dimaklumi mengingat sistem yang eksis saat ini jarang, jika
disebut tak pernah, untuk membongkar hakikat-hakikat yang kasat mata. Orang
sama yang mengatakan hal tersebut kemudian bertanya, jika tak lagi ada harapan,
bagaimana orang-orang akan melanjutkan hidupnya yang sudah terlalu penuh akan
hal-hal yang kejam?
Pertanyaan
ini sering sekali terdengar, dalam berbagai varian dan bentuknya. Untuk itu mari
kita lihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Sistem yang eksis saat ini
telah membuat manusia terasing tidak hanya terhadap apa-apa yang dihasilkannya,
secara lebih luas lagi keterasingan telah merasuk hampir dalam setiap hal dan menjadi
sesuatu yang lumrah dalam masyarakat modern. Hanya saja, keterasingan ini
memiliki berbagai bentuk dan varian-varian yang terkadang begitu halus
terselubung, sehingga sebagian besar orang beranggapan bahwa keterasingan
adalah sesuatu yang tak pernah eksis. Televisi, mall, budaya konsumerisme,
dunia simulasi seperti Disneyland atau Dunia Fantasi, dan lain-lainnya,
merupakan output-output kecil yang sengaja dibuat oleh dunia modern untuk
menyamarkan efek keterasingan dan mengekalkannya. Tapi output-output ini pun
sebenarnya meninggalkan jejak yang jelas akan eksisnya keterasingan itu
sendiri, walaupun jejak yang paling nyata terlihat adalah orang-orang merasa
dirinya baik-baik saja. Seakan sedang memupuk dendam, mereka hanya tinggal
menunggu hidupnya meledak: menjadi bebas seutuhnya atau tinggal dalam
keterasingan yang membuat hidupnya kosong, sebagai rutinitas menuju kematian.
Orang-orang merasa bahwa harapan adalah misteri
yang mutlak diperlukan untuk membuat hidup terus berjalan dan melupakan bahwa
hidup itu sendiri adalah misteri yang sampai saat ini belum dimaksimalkan
pemecahannya. Orang-orang menjadi kurang tertarik akan relasi sosial yang bebas
tanpa dominasi dan hirarki—malah cenderung mengeksiskannya. Orang-orang
berpikir bahwa ketika relasi manusia telah bebas dari hegemoni, dominasi, dan
hirarki, maka hidup tak lagi terlihat menarik dan akan berjalan datar-datar
saja. Mereka lupa bahwa selama ini gesekan antara manusia dan alam pun belum
terselesaikan. Orang-orang menjadi lupa bahwa banyak hal dalam alam dan diri
manusia itu sendiri belum banyak yang diketahui dan dieksplorasi. Orang-orang
merasa lebih membutuhkan harapan, karena harapan adalah masa depan, dan masa
depan harus ada sebagai alasan bagi masa kini untuk melanjutkan kehidupannya.
Memangnya ada apa dengan masa depan? Sebegitu pentingnyakah masa depan hingga
orang-orang melupakan begitu saja masa kini? Kenapa memangnya jika tak ada masa
depan? Bukankah hidup kita saat ini akan benar-benar terasa lebih berarti
ketika kita tak berpikir tentang masa depan?
When there's no future, how can
there be sin, we're the flowers in the dust bin, we're the poison in the human
machine. We're the future. Your future. God save the Queen”, kata Jhony
Rotten.
Setelah harapan telah mati, kemudian apa lagi,
ketika mimpi dan khayalan pun telah sedemikian diintervensi oleh sistem? Hidup dan
kehidupan itu sendiri. Hidup dan kehidupan yang bebas untuk sama sekali tidak
memiliki obsesi atau tendensi apa pun selain petualangan dan kebahagiaan itu
sendiri. Di saat kesuksesan—dalam artian material kasat mata—telah sedemikian
berkuasa atas impian orang-orang dan malah membuat orang-orang tersebut
tenggelam dalam keterasingannya, petualangan dan kebahagiaan adalah salah satu
obat yang akan membuat orang-orang merasa hidup kembali dan menegasikan sistem
yang eksis dengan komodifikasinya.
Hidup akan dirayakan, di mana pesta-pesta penuh
kegembiraan akan dilaksanakan dalam banyak waktu. Orang-orang tak perlu lagi
bekerja untuk sekedar bertahan hidup—kerja akan menjadi sebuah kegiatan bebas,
sesuai kebutuhan. Tanpa harapan, hidup akan terasa lebih nyaman dan bebas,
tinggal bagaimana anda melakukan
sesuatu untuk membuktikan bahwa anda bebas, bahkan juga apabila hal tersebut
akan menghancurkan anda. Kierkegaard memisalkan kisah Adam yang masih berada di
firdaus, ia bahagia dan hidupnya bermakna hingga Tuhan memperlihatkan Pohon
Pengetahuan dan berkata, "Jangan makan buah pohon ini." Setelah itu,
Adam tak lagi bebas. Ada sebuah aturan yang sebenarnya dapat ia tabrak, dan ia
harus melanggarnya untuk membuktikan kebebasannya, bahkan apabila kebebasan
tersebut adalah kehancuran dirinya. Kierkegaard mengatakan bahwa di mana saat
kita dilarang melakukan sesuatu, maka kita akan melakukannya. Tak terhindarkan.
Dan setiap anda melihat sebuah kemungkinan, maka akan selalu ada dorongan untuk
mencobanya, untuk membuatnya menjadi benar-benar terjadi.